Connect with us

Belajar dari Flash Wolves, Tim Elit yang Dibentuk dari Kesabaran dan Ketekunan

Flash Wolves Team

eSports

Belajar dari Flash Wolves, Tim Elit yang Dibentuk dari Kesabaran dan Ketekunan

INIGAME.ID – Setelah tampil mengesankan pada LMS Spring 2016 dan keluar sebagai semi-finalis MSI 2016 kemarin, Flash Wolves tampil mengesankan di opening day LMS Summer 2016. Menggulung Mid Night Sun tanpa perlawanan yang berarti, Flash Wolves berhasil membawa pulang tiga poin penuh di minggu pertama LMS Summer 2016.

flash wolves spring 2016

Photo credit: lolesports

Menjadi tim yang sangat dominan di regional Taiwan, Hong Kong, dan Macau saat ini, ternyata Flash Wolves memiliki sejarah yang panjang dan berliku. Jika melihat di awal, pasti tidak ada satu orangpun yang beranggapan bahwa Flash Wolves mampu bertransformasi menjadi salah satu tim elit dunia seperti saat ini.

Pernah Vakum dan Nyaris Dibubarkan Secara Permanen

Dibentuk di awal tahun 2013, Flash Wolves waktu itu merupakan kandidat degradasi terbesar di Season 3 Taiwan Regional Finals. Masih mengusung nama yoeIronMen, mereka harus puas dengan finis di posisi ke enam saat menjalani babak kualifikasi di Taiwan eSports League-Draft Season 2012/ 2013.

yoe ironmen logo

Meskipun menjadi juru kunci, karena sistem yang diterapkan oleh Taiwan eSports League pada saat itu, yoeIronMen tetap harus maju ke Season 3 Taiwan Regional Finals, dengan mendapatkan slot terakhir di Grup B. Namun dua minggu sebelum kompetisi dimulai, tepatnya tanggal 16 Juli 2013, Vac, Real1ron, BonBon, dan president meninggalkan yoeIronMen. Berselang beberapa hari, yoeIronMen mengungumkan Walk Out dari segala kompetisi regional dan akan memutuskan masa depan mereka dalam waktu dekat.

Di Taiwan pada saat itu memang eSports belum menjadi sebuah komoditas yang diutamakan seperti di Korea. Sehingga kesulitan finansial dan minimnya motivasi menjadi hal yang biasa bagi siapapun yang ingin menggantungkan hidupnya pada eSports.

Lahirnya Sang Legenda

Setelah sempat tidak memiliki rooster sama sekali, pada tanggal 22 Agustus 2013, Yoe Card, selaku sponsor utama yoeIronMen, mengungumkan bahwa mereka telah menemukan sejumlah pemain baru. Lalu lahirlah yoeFlash Wolves yang pada saat itu ditunggangi oleh Chou “Steak” Lu-hsi sebagai top laner, Chen “Maooo” Kuan-ting mengisi posisi jungler, Huang “Maple” Yi-tang, yang berperan sebagai shotcaller dan playmaker di midlane, serta duo Chen “Dee” Jun-dee dan Hu “SwordArt” Shuo-ji di bottom lane.

Mengesankan dan Impresif. Dua kata itu yang mampu menggambarkan yoeFlash Wolves setelah keluar dari “kepompong” mereka. Dengan susunan rooster ini, mereka berhasil menjadi jawara 2013 World Cyber Games Taiwan Qualifiers, setelah menumbangkan dua tim raksasa di Taiwan, Ahq-eSports dan Taipei Assassins—yang notabenenya kedua tim tersebut selalu mendominasi Taiwan dan Garena Premier League saat itu.

BACA JUGA:   Perusahaan Tiongkok, Tencent, akan Hadirkan Kompetitor Steam Bernama WeGame

wcg 2013

Alhasil, yoeFlash Wolves berhak mendapatkan tiket untuk berkompetisi di Garena Premier League 2014 Winter Season. Namun sayang, karena syarat ketentuan minimal umur pemain yang diterapkan oleh pihak Garena, yoeFlash Wolves harus absen dari GPL 2014 Winter Season dan memberikan kesempatan kepada Taipei Snipers untuk berlaga menggantikan mereka bersama dengan Taipei Assassins dan Ahq-eSports.

Karena ketentuan yang tidak memihak tim-tim dari Taiwan, Hong Kong, dan Macau, maka Ahq, Flash Wolves, Taipei Organization dan sederet tim lainnya memutuskan untuk memisahkan diri dari Garena Premier League dan membuat League of Legends Master Series yang setara dengan LCS dan LPL, di mana tim pemenang dan runner-up berhak maju otomatis ke panggung internasional tanpa harus mengikuti kompetisi International Wild Card Tournament.

Perkenalan Flash Wolves

Setelah terbentuknya League of Legends Master Series, hal ini menjadi ujian tersendiri bagi Flash Wolves untuk menunjukkan eksistensinya. Menjadi pemuncak klasemen di Spring Season dengan rekor 90% kemenangan diatas Taipei Assassin dan Ahq-eSports adalah cara tersendiri bagi Flash Wolves untuk menjawab semua keraguan yang dilontarkan oleh publik Taiwan sebelum kompetisi dimulai.

flash wolves logo team

Meskipun pada Spring Season Playoff 2015 Flash Wolves harus menyerah di tangan Ahq-eSports di babak final, namun hal itu sudah cukup bagi Flash Wolves untuk menjadikan mereka salah satu tim yang patut diperhitungkan pada musim-musim mendatang. Pada Summer Season sistem Win, Tie, and Lost diterapkan untuk pertama kalinya di kompetisi League Of Legends. Namun hal tersebut tidak membuat performan Flash Wolves kendor.

Flash Wolves berhasil merebut posisi runner-up di akhir Summer Season, dan berhak untuk melanjutkan langkah ke kualifikasi Summer Playoff, yang nantinya akan menentukan nasib mereka untuk mengikuti Regional Finals guna mencari perwakilan LMS di League Of Legends World Championship 2015. Sayang, kali ini langkah Flash Wolves harus terhenti di ronde kedua babak playoff, dan hanya mampu merebut posisi ke tiga di Regional Finals setelah harus mengakui keunggulan Hongkong eSports yang telah lama menjadi rival mereka. Shiue “DinTer” Hung-Wei dan kolega berhasil mengakhiri perjalanan Flash Wolves dengan skor akhir 3-1.

Melawan Kemustahilan

Tidak diunggulkan sama sekali, publik mulai meragukan Flash Wolves dan malah menjagokan rival mereka, HongKong eSports untuk mendampingi Ahq-eSports di 2015 League Of Legends World Championship. Apalagi, HongKong eSports berpengalaman menumbangkan Flash Wolves di babak knockout.

Flash Wolves mamulai perjalanan di Regional Finals dengan mulus. Mereka berhasil memukul telak Mid Night Sun dengan skor 3-0. Maple keluar sebagai MVP pada pertandingan kali itu. Flash Wolves berhak melaju ke babak final untuk bertanding melawan rival abadi mereka, HongKong eSports.

BACA JUGA:   INI Penampakan Terbaru Jhin League of Legends yang Sempat Bocor di Internet

“Mungkin 3-0, atau 3-1. Yang jelas kami sangat paham bahwa pengalaman tidak bisa berbohong. Publik tahu siapa yang terbaik. Dan kami siap menawarkan yang terbaik bagi LMS,” tukas coach HongKong eSports, Yang “Apro” Jue-Hong.

Flash Wolves harus memulai permainan dari belakang. Mereka harus mengakui keunggulan rival mereka di pertandingan pertama dari berbagai aspek. Pengalaman, dan koordinasi serta injeksi permainan individu yang memukau dari duo botlane Kang “May” Han-wool dan Chang “Awei” Jia-Wei.

Meski langkah Flash Wolves semakin berat, hal tersebut tidak menyurutkan semangat anak asuhan Shih “Fluidwind” Yi-Hao. Flash Wolves berhasil mengembalikan kedudukan menjadi 2-1 di dua game selanjutnya, berkat penampilan yang impresif dari Maple dan jungler baru mereka Hung “Karsa” Hau-Hsuan.

Hung-Karsa-Hau-Hsuan

Photo credit: lolesports

Memanfaatkan Zed dan Viktor yang memiliki style permainan berbeda dan tidak terprediksi, Maple menjadi semakin disegani di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Penampilan Maple berhasil membuka mata publik Taiwan bahwa ia tidak selalu bergantung pada Karsa. Dan pertandinganpun harus diselesaikan hingga ke pertandingan ke lima, setelah HongKong eSports kembali mengungguli Flash Wolves di pertandingan ke empat.

Di pertandingan terakhir dan penentu, baik Flash Wolves dan HongKong eSports bermain sangat hati-hati. Meskipun pada akhirnya, Flash Wolves berhasil memanfaatkan kelengahan rival mereka dan menyandang gelar juara pada Regional Finals serta berhak mendampingi Ahq-eSports di 2015 League Of Legends World Championship

Midlane bukan Hanya Milik Faker, Jungle juga Tidak Terbatas Hanya untuk Bengi

Berhasil mencuri hati publik Taiwan, kini misi Flash Wolves selanjutnya adalah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mampu bersaing dengan tim-tim elit dunia seperti SKT T1, KOO Tigers, Fnatic, dan Cloud9. Tergabung di grup A bersama KOO Tigers, Counter Logic Gaming, dan Pain Gaming, tanpa disangka-sangka, Flash Wolves keluar sebagai juara grup dengan rekor 4-2—disusul oleh KOO Tigers dari Korea yang memiliki rekor serupa.

Performa Flash Wolves di fase grup memang menjadi highlight tersendiri di 2015 League Of Legends World Championship. Puncaknya ketika AD Carry mereka, Hsiung “NL” Wen-An mencetak Pentakill saat bermain sebagai Jinx melawan Counter Logic Gaming. Sejauh ini hanya Gu “Imp” Seung-bin dari Samsung Galaxy White dan Martin “Rekkles” Larsson dari Team Fnatic yang mampu mencetak Pentakill di ajang terbesar League Of Legends sedunia tersebut sebagai AD Carry.

BACA JUGA:   Practice Tool untuk League of Legends Akhirnya Hadir!

nl flash wolves pentakill

Joshua “Jatt” Leesman, analis Riot Games mengatakan bahwa Maple dan Karsa merupakan pemain dengan potensi yang luar biasa dan memiliki kesempatan yang sama besar dengan SKT T1 untuk membawa pulang piala World Championships.

“Kita mengenal Smeb dari KOO Tigers, Faker dari SKT T1, namun kita lupa bahwa ada seorang pemain yang berubah dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Ia adalah Maple. Bagi saya, Maple pantas menduduki 5 besar pemain terbaik di League Of Legends,” tukas Jatt.

Namun sayang, Flash Wolves harus angkat koper terlebih dahulu di babak delapan besar setelah harus menyerah dari tim usungan Enrico “xPeke” Martinez, Origen yang sedang naik daun di EU LCS.

MSI 2016 sebagai Puncak Pengakuan Publik terhadap Flash Wolves

Setelah kembali menjuarai LMS Spring Split Playoff 2016 dengan menggulung Ahq-eSports di partai Final, Flash Wolves untuk kedua kalinya berhak unjuk gigi di pentas internasional. Kali ini, resepsi yang diterima Flash Wolves sedikit berbeda. Meskipun dicintai di Taiwan, namun hal tersebut tidak di Tiongkok.

Sebagai tuan rumah, publik Tiongkok memang menjagokan RNG sebagai juara LPL Summer Split. Namun karena berbagai hal, Tiongkok dan Taiwan memang memiliki rivalitas di berbagai aspek, hingga merembet ke rancah eSports. Publik Tiongkok menginginkan Flash Wolves untuk tersingkir di fase grup. Apalagi setelah mereka harus mengakui keunggulan tim asal LPL, RNG yang berhasil mengalahkan mereka back to back di fase grup. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Flash Wolves. Terbukti, di fase Grup, Flash Wolves berhasil mengalahkan tim terbaik di dunia, SKT T1 dua game sekaligus.

flash wolves vs SKT T1

Photo credit: LoLeventVODs

Terlepas dari performa SKT T1 saat itu yang memang terlihat kehilangan arah, kemenangan atas SKT T1 menjadi sebuah pembuktian bahwa Maple, Karsa, SwordArt, NL, dan MMD merupakan sekumpulan pemain kelas dunia yang merupakan kontender bagi siapa saja yang ingin menjuarai sebuah kompetisi.

Flash Wolves memang tidak berhasil mencapai babak Final setelah dipaksa bermain pasif oleh Trevor “Stixxay” Hayes dan Counter Logic Gaming selama tiga game, namun Flash Wolves telah menjelma dari sebuah tim yang hampir tidak eksis, menjadi tim yang dijagokan untuk menjuarai 2016 League Of Legends World Championship.

Lalu bagaimana menurut gamers? Apakah Flash Wolves akan melanjutkan tradisi mereka di Summer Split LMS 2016 kali ini dan memberikan kejutan di World Championship? Atau punya prediksi lain untuk tim ini ke depannya?



Kontak Informasi INIGAME.ID (Press Release / Business / Partnership).
Email: info@inigame.id.

More in eSports

To Top