Connect with us

INIGAME

Hasil Riset INI Mematahkan Argumen bahwa Game bisa Membuat Anak Agresif

games tidak membuat orang agresif

News

Hasil Riset INI Mematahkan Argumen bahwa Game bisa Membuat Anak Agresif

INIGAME.ID – Game seringkali dijadikan alasan oleh berbagai kalangan yang hampir tidak pernah bermain game sebagai alasan kenapa anak, remaja atau orang dewasa menjadi kasar, agresif atau penyendiri.

Bahkan pada tahun 2015, seorang politisi sempat menyalahkan kekerasan menggunakan senjata api di Salford merupakan “diet dari game perang dan Grand Theft Auto“.

Sekolah Kedokteran Hannover (Hannover Medical School) yang terletak di Hanover, Jerman membuat sebuah penelitian mengenai hubungan game dengan kekerasan manusia untuk jangka panjang menggunakan scanning otak (MRI) dan kuesioner psikologi.

Penelitian tersebut dimulai karena hasil penelitan sebelumnya bahwa tingkat kriminalitas dan tingkah laku antisosial yang meningkat berhubungan dengan naiknya popularitas game dengan genre Shooter seperti Grand Theft Auto V, Call of Duty dan Battlefield.

battlefield-1-theme

Battlefield 1

” Pertanyaan penelitian diangkat pertama kali berdasarkan fakta bahwa popularitas dan kualitas video game berkembang, “

Tutur Dr. Gregor Szycik dari Hannover Medical School.

Para peneliti menggunakan grup gamers dan non-gamers untuk membandingkan hasil dari temuan mereka. Grup non-gamers dipastikan tidak pernah bermain game yang berhubungan dengan studi mereka.

BACA JUGA:   Call of Duty: Infinite Warfare akan Jadi Judul Game CoD Tahun INI?

Untuk grup gamers, para peneliti mengambil data dari sejumlah orang yang bermain game dengan genre Shooter minimal 2 jam dalam 1 hari (meskipun beberapa gamers mencapai 4 jam bermain dalam 1 hari) selama 4 tahun.

Semua gamers yang akan diteliti dalam grup tersebut tidak diperbolehkan bermain game 3 jam sebelum pemeriksaan dimulai.

Hal ini dilakukan karena pada penelitian yang dilakukan oleh tim sebelumnya, mereka melakukan kesalahan dengan langsung melakukan pemeriksaan setelah gamers memainkan game yang bersangkutan sehingga data yang didapat dari penelitian tersebut kurang bisa digunakan.

call-of-duty-infinite-modern-warfare-war

Call of Duty: Infinite Warfare

Setelah itu, setiap peserta dari kedua grup menjawab kuesioner psikologi. Selesai dari kuesioner, semua otak peserta di-scan menggunakan MRI sambil diperlihatkan beberapa gambar yang didesain untuk memprovokasi respon emosional dan empati.

BACA JUGA:   INI Cuplikan Perdana The Gamechangers, Cerita di Balik Pengembangan Grand Theft Auto

Ketika gambar-gambar bermunculan, para peneliti menanyakan setiap peserta apa yang mereka rasakan ketika terlibat dalam situasi tersebut.

Hasilnya?

Kuesioner yang dilakukan oleh tim penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan agresi dan empati dari gamers dan non-gamers.

Penemuan tersebut juga didukung oleh hasil scan MRI yang mendemonstrasikan bahwa gamers dan non-gamers memiliki respon neural yang sama pada gambar yang secara emosional provokatif.

BACA JUGA:   Informasi Terbaru Call of Duty: WWII Pastikan akan Memiliki Fitur Co-op

Penemuan tersebut mengagetkan para peneliti karena hasil yang didapat bertolak belakang dengan hipotesis mereka dan mengambil kesimpulan bahwa semua efek negatif dari game dengan kekerasan seperti Grand Theft Auto V kepada persepsi dan tingkah laku bersifat sementara.

Kesimpulannya, meskipun game bukanlah asal usul dari kekerasan anak, remaja atau orang dewasa dalam jangka panjang, terdapat pengaruh kekerasan yang bersifat sementara ketika bermain atau setelah bermain game dengan kekerasan yang tinggi.

Jadi jangan salahkan game untuk kekerasan yang dilakukan oleh anak atau saudara gamers. 

Thanks to frontiersfrontiers blog dan USgamer

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!